Teori Relativitas March 26, 2007
Posted by thefenz in Mind.trackback
Beberapa hari yang lalu, aku menonton sebuah film di televisi. Ada sebuah dialog yang menarik perhatianku. Dialog tentang teori relativitas, kira-kira seperti ini : 1 menit akan terasa sangat lama ketika kita harus memegang air panas, tetapi 1 menit akan terasa sangat singkat untuk dihabiskan dengan seorang wanita “panas”. Kata-katanya memang cukup vulgar, tapi maknanya sangat berkesan buatku. Bukan karena wanita panasnya tentu saja, tapi karena aku menyadari ya, memang begitulah adanya.
Teori ini bersifat universal, dirasakan oleh semua orang, tua muda, miskin kaya, semua pastinya sadar atau tidak, pernah merasakan hal ini.
Aku secara pribadi pastinya akan berkata ya, aku pernah bahkan cukup sering mengalaminya. Ambilah satu contoh yang paling simple, 2 jam akan terasa sangat singkat ketika aku memutar DVD film seri Korea kesukaanku, tapi 2 jam terasa sangat lama dan membosankan ketika aku harus mengerjakan tugas-tugasku. Apalagi kalau ditambah dengan suasana hati yang kurang mendukung / lagi gak mood kerja ^-^ wah gawat ini, 2 jam bisa terasa seperti 2 abad.
Kalau kita mau membawa teori ini masuk ke dalam ruang religi kita, mungkin saja teori ini juga berlaku pada sebagian dari kita. Aku pun tak memungkiri, kalau aku juga kerap kali merasakannya.
Ketika kita sedang berdoa misalnya, seringkali 5 atau 10 menit terasa sangat lama; Mau ngomong apa lagi sama Tuhan? Atau ah, Tuhan sudah tau kok apa yang aku pikirkan. Atau aduh harus cepat nih, sebentar lagi film seri kesayangan akan dimulai. Atau yang paling sering adalah aduh aku sudah ngantuk Tuhan, seharian ini aku sudah bekerja sangat keras, sampai gak ada waktu buat istirahat, jadi doanya sebentar aja ya Tuhan … Tapi ketika kita sedang membaca buku cerita atau novel kesayangan 3 jam, 4 jam, tak ada rasanya. Bahkan dulu ketika masih kuliah aku pernah tidak tidur semalaman hanya karena “tanggung” membaca Harry Potter, padahal siang harinya aku sangat sibuk, kuliah, ujian, mengurus ini itu, bahkan esok harinya pun aku masih harus kuliah pagi. Dahsyat bukan?
Contoh lain adalah relativitas antara 1 jam saat Perayaan Ekaristi dengan 2 jam saat menonton bioskop bersama pacar / teman / keluarga. Secara teori dan logika, seharusnya 2 jam akan terasa 2x lebih lama daripada 1 jam, tapi seringkali yang terjadi adalah kebalikannya, kita seringkali berusaha ”mempersingkat” waktu 1 jam yang harus kita lalui dengan berbagai cara, mulai dari datang “agak terlambat”, sampai pulang sebelum perayaan benar-benar selesai. Bandingkan dengan ketika kita akan pergi menonton film, apalagi kalau perginya dengan pacar, wah … 2 jam sebelumnya kita sudah mulai sibuk memilih pakaian dan berdandan, lalu kita akan berusaha tiba di bioskop secepat mungkin, supaya kebagian tempat yang enak, yang bisa melihat dengan jelas, ketika sampai di dalam dan film di mulai, kita akan dengan khusyuk memperhatikan dan … tiba-tiba saja waktu berlalu dengan sangat singkat.
Ternyata kehidupan kita dipenuhi dengan relativitas, tidak hanya relativitas terhadap waktu, tetapi juga terhadap hal-hal yang lain. Pernah seorang teman pria saya berkata : kalau melihat cewe cantik itu relatif, buat gue cantik, buat cowo lain belum tentu. Ya, rasanya memang benar apa kata teman saya itu. Kecantikan, kebaikan, sifat, lama waktu, posisi dan tindakan serta masih banyak lagi hal-hal yang bersifat relative bagi kita.
Contoh dari relativitas suatu tempat / posisi yang paling mudah kita jumpai adalah posisi tempat duduk. Tempat duduk yang terbaik di bioskop adalah tempat dimana kita bisa memandang layar dengan sempurna, tetapi tempat duduk yang terbaik di Gereja belumlah tentu tempat dimana kita bisa memandang Altar dengan sempurna, bisa jadi justru tempat terbaik di Gereja adalah bangku bakso di luar Gereja. Semuanya bersifat relative, apa yang baik buatku, belum tentu baik bagi kamu.
Serba relative, serba tak pasti. Semuanya tergantung pada kita sekarang, apakah waktu yang singkat yang sangat kita nikmati adalah saat terbaik dalam hidup kita yang dapat kita alami, ataukah kalau saja kita mau merenungkan lebih dalam sesungguhnya saat-saat terbaik dalam hidup kita justru adalah saat-saat panjang dan membosankan yang kerap kali kita hindari. Yang mana? Mari kita sama-sama mencari jawabannya …
Jakarta, 24 Maret 2007
11:07





Yah… Kita hidup di dimensi ruang waktu yg terikat hukum relativitas, jd smuanya serba relative…^^
tergantung cara kita memanfaatkannya…