jump to navigation

Kidung Sheilla July 16, 2007

Posted by thefenz in Mind.
trackback

Memangku dilahirkan begini, tak pernah kusesali diri.
Memang sudah kehendak Ilahi, kan ku terima kenyataan.
Terima kasih kami ucapkan atas uluran tangan kasihnya.
Hanya doa yang kami panjatkan smoga Tuhan membalas budinya.
Gelap gulita dunia kami, namun tiada terasa dihati ini.
Gelap gulita dunia kami, namun kami tak ingin tersisih.

 

Begitu lirik lagu yang dinyanyikan Sheilla (25), salah seorang penghuni Panti Rehabilitasi Anak Cacat Bakti Luhur, Pamulang-Tangerang, saat aku datang berkunjung kesana bersama dengan teman-temanku dari alumni kursus evangelisasi pribadi Gereja MBK, hari Minggu, 15 Juli 2007 kemarin.

Panti itu dihuni oleh 70 orang anak dari berbagai usia. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak penderita downsyndrome, buta lowvision dan cacat ganda. Mereka tinggal dalam 10 rumah yang letaknya berdekatan. Masing-masing lima rumah untuk asrama laki-laki dan perempuan. Mereka diasuh oleh 5 orang biarawati dari ordo ALMA dan 17 orang perawat dari Yayasan Bakti Luhur.

Awalnya aku berpikir akan bertemu dengan anak-anak yang murung dalam suasana duka. Tapi ternyata dugaanku salah besar. Kami disambut dengan senyum riang dan tawa lebar. Beberapa dari mereka malah tanpa malu-malu menggandeng tangan dan mengajak kami masuk ke dalam ruangan sederhana yang telah disiapkan. Bahkan ada seorang anak yang terus menerus menjabat erat tanganku sambil menyebutkan namanya.

Acara dimulai dengan doa dan sambutan singkat, lalu dilanjutkan dengan bermain bersama. Dua orang temanku memakai kostum badut untuk menghibur mereka. Keceriaan begitu nyata saat bermain pecah balon. Balon diikat pada kaki kiri masing-masing lalu berusaha memecahkan balon temannya sambil menjaga agar balon miliknya tetap utuh. Teriakan histeris dan tawa riang memenuhi seluruh ruangan. Terlebih saat beberapa orang suster dan perawat ikut bermain. Kali ini kaki kiri perawat dan kaki kanan anak asuhnya diikat menjadi satu. Balon lalu diikatkan di kaki kiri si anak. Aturan mainnya tetap sama, tapi tingkat kesulitannya jelas berbeda. Tanpa canggung para perawat itu merangkul anak asuhnya ketika mereka berusaha berjalan. Tampak jelas dalam kekompakan mereka kasih yang begitu dalam.

Letih bermain, mereka lalu beristirahat sambil menyaksikan sulap dan mendengarkan beberapa buah lagu yang dinyanyikan oleh dua orang anak temanku, Audrey dan Dita. Saat melihat Audrey dan Dita menyanyi itulah Sheilla merasa tertantang untuk ikut menyumbangkan sebuah lagu. Tak jelas siapa yang mengarang lagu itu. Nadanya begitu sederhana. Tapi yang pasti tiap kata yang keluar dari bibir Sheilla membuat kami semua merasa tersentuh, semua terpana, bahkan beberapa pasang mata tampak berkaca-kaca.

Acara lalu dilanjutkan dengan makan siang bersama. Sebagian besar anak dapat makan sendiri tanpa perlu dibantu. Hanya beberapa yang harus disuapi atau diawasi. Dalam obrolan makan siang, aku mendapat banyak kisah. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak buangan. Begitu Suster Lusilastri memulai ceritanya. Ada yang diantar oleh keluarganya lalu tak pernah dijenguk lagi, ada yang ditemukan oleh orang lalu diantar ke panti, dan yang paling menyedihkan, beberapa dari mereka dipungut dari tempat sampah. Hanya sebagian kecil saja yang hingga saat ini masih dapat berkumpul dengan keluarga saat liburan tiba.

Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mereka bermain dan belajar bersama. Mulai dari belajar membaca, menulis, menjahit, seni musik, sampai belajar di salon. Di salon mereka belajar aneka keterampilan, mulai dari creambath sampai menyemir dan menggunting rambut. Biasanya mereka dibayar Rp. 5.000,- untuk setiap jasa salon yang mereka kerjakan. Hal ini dimaksudkan agar mereka mengerti sistem pembayaran dan menghargai setiap usaha yang sudah dilakukan.

Tak terasa hari sudah menjelang sore. Sudah waktunya bagi anak-anak itu beristirahat. Setelah berpamitan dan menyanyikan lagu Kemesraan kamipun pulang dengan membawa begitu banyak pengalaman baru dan kenangan dalam hati.

Dalam perjalanan pulang terngiang dalam benakku sebuah lagu lama; I’m no body’s child. Just like a flower I’m growing wild. No mommy’s kissis and no daddy’s smile. No body wants me. I’m no body’s child … Ya, mereka mungkin memang terbuang. Tapi semangat mereka, senyum, tawa, jabat erat, pelukan hangat dan sinar yang memancar dari mata mereka serta lirik lagu yang dinyanyikan Sheilla membuat aku merasa begitu bersyukur dapat bertemu dan berkenalan dengan mereka.

Terima kasih sahabat, hari ini aku boleh belajar banyak dari kalian semua. Ketidaksempurnaan dan kekurangan tak pernah membuat kalian berdiam dan meratapi hidup. Kalian tetap berusaha melangkah dengan senyum. Semangat hidup dan keceriaan kalianlah yang akan terus tinggal dan menyemangati hatiku untuk terus belajar dan berjuang dalam peziarahan panjang hidup ini.


Comments»

1. elmi - August 25, 2008

hai, sudah stahun lewat ya teks cerita manis ini ditulis. maaf sy baru baca. nah, sekarang sy butuh no telpon panti Bhakti Luhur itu. boleh?
terimakasih sbelumnya.