IF … June 19, 2008
Posted by thefenz in Daily.add a comment

If a picture paints a thousand words,
Then why can’t I paint you?
The words will never show the you I’ve come to know.
If a face could launch a thousand ships,
Then where am I to go?
There’s no one home but you,
You’re all that’s left me too.
And when my love for life is running dry,
You come and pour yourself on me.
If a man could be two places at one time,
I’d be with you.
Tomorrow and today, beside you all the way.
If the world should stop revolving spinning slowly down to die,
I’d spend the end with you.
And when the world was through,
Then one by one the stars would all go out,
Then you and I would simply fly away
Menggapai Cakrawala June 4, 2008
Posted by thefenz in Mochacinno in the Morning.add a comment
”Hanya orang bodoh yang merasa mampu menggapai cakrawala,” kata seseorang.
Ya, tentu saja, tak akan ada yang bisa mencapai cakrawala. Setiap kali kita sampai di satu titik, cakrawala selalu ada di titik lain di hadapan kita.
”Kecuali jika kita yakin bahwa cakrawala pernah ada di sini, di titik kita berdiri saat ini,” seseorang itu berkata lagi.
Melelahkan, menyakitkan, merupakan perjalanan yang terus-menerus, bahkan seringkali tampak sebagai sesuatu yang mustahil sehingga menyurutkan semangat. Itulah gambaran perjalanan mengejar cakrawala.
Tak heran jika banyak yang memilih untuk berhenti. Tapi ada juga yang tetap berlari sambil berkata begini, ”Bagaimanapun, aku telah sampai di satu titik ini. Dulunya, titik ini adalah cakrawala yang pernah kulihat dari kejauhan. Aku telah mencapainya, dan kini aku akan mencapai cakrawala yang berikutnya.”
Dan seseorang yang telah menggapai mimpinya, hanya perlu bersiap untuk mimpi yang selanjutnya.
- – -
Menggapai cakrawala … seseorang yang telah menggapai mimpinya hanya perlu bersiap untuk mimpi yang selanjutnya … Terdengar sangat optimis apa yang baru saja aku dapatkan dari email pagi ini … Apakah kenyataannya juga akan seoptimis ini?
Entahlah … Apa yang kuinginkan dalam hidup ini sama seperti menggapai cakrawala … melelahkan, menyakitkan dan tak akan pernah tergapai. Ia selalu ada di titik lain di depan mata.
Akankah pada akhirnya nanti aku memilih untuk berhenti? Ya, mungkin memang suatu saat nanti aku harus berhenti. Tapi yang pasti saat ini aku masih ingin berlari …
Jalan Tengah June 3, 2008
Posted by thefenz in Mochacinno in the Morning.2 comments

Dari email pagi ini :
Centang-perenang kehidupan sehari-hari, seringkali membawa kita pada suatu persimpangan. Kita dihadapkan pada pilihan-pilihan, juga pertentangan-pertentangan yang memaksa kita untuk berpihak. Kita pun bertanya: mana yang aman, yang menantang, atau yang membahayakan?
Memilih itu tidak mudah, apalagi jika kita terpaku pada apa yang ada. Padahal, tanpa kita sadari, memilih itu barangkali berarti membuat suatu alternatif yang lain sama sekali.
- – -
Memilih itu tidak mudah … Sangat tidak mudah … Jadi inget film The Butterfly Effect. Change one thing change everything … Setiap pilihan yang diambil berpengaruh pada banyak hal. Bahkan terkadang pilihan yang terbaik justru adalah pilihan yang paling menyakitkan.
Aku harus mulai belajar menentukan pilihan sekarang … Karena aku tau tak selamanya aku bisa terus berdiam tanpa arah dan tujuan. Karena bagiku tidak menentukan pilhan bukan berarti sebuah alternatif pilihan. Aku akan mulai menentukan pilihan. Memilih yang terbaik … meskipun yang terbaik adalah yang paling menyakitkan …
Butterfly May 30, 2008
Posted by thefenz in Daily.add a comment
Suatu hari aku menemukan seekor kupu-kupu … Sayapnya yang begitu indah membuat aku sangat terpesona. Aku berusaha menangkapnya dan berhasil … Betapa senangnya hatiku … Kupu-kupu itu kubawa pulang, kubuatkan sebuah kandang yang indah …
Sesekali ia aku keluarkan dari kandangnya dan kuletakkan dalam genggaman tangan … Setiap kepak sayapnya menyentuh kulitku aku merasa sangat nyaman. Hari lepas hari aku semakin jatuh cinta pada kupu-kupu mungil itu. Hingga suatu hari kusadari warnanya mulai memudar. Sayapnya tak seindah dulu. Kepaknya tak selincah saat pertama kusentuh. Semakin sering aku menyentuhnya semakin cepat warnanya memudar dan semakin lemah kepak sayapnya.
Aku sadar aku salah mengekspresikan cintaku. Aku menyentuhnya karena aku mencintainya. Tapi justru cintakulah yang membuat kupu-kupu mungil itu tersiksa. Aku tau … aku harus melepaskannya supaya ia dapat tetap hidup.
Tapi aku sudah terlalu cinta padanya. Aku tak sanggup kehilangan dia. Lagipula sepertinya kupu-kupu kecil itu pun mulai mencintai aku. Dia terlihat bahagia setiap kali kusentuh. Bahkan saat kucoba membuka tangan dan memberinya kesempatan untuk terbang ia tak lagi mau. Ia malah mengepakan sayapnya dengan lembut dan berjalan terus di atas tanganku. Seolah tak mau kehilanganku.
Ah … mengapa jadi begitu sulit membuatnya kembali bebas? Tak sadarkah ia bahwa cintaku perlahan akan membunuhnya?





